….Ting Tong…!!

•August 4, 2008 • Leave a Comment

“….Ting tong…!!”

Bunyi khas yang keluar dari modul Yahoo! Messenger ketika seseorang dari friend list mem buzz kembali terdengar, dan ini membuat Jimi jadi makin panik.

“Duuh, bentaaaar, tanggung nih..!!, susunan lagu belum beres lagi….dan, mmm, mau ngomongin apa ya nanti? Ah nanti aja lah improv, biasanya juga gitu kan?”

Senin malam selalu menjadi malam yang hectic buat Jimi, dimana ia harus mempersiapkan segala sesuatu untuk siaran yang dimulai pada jam 11 malam sampai dengan jam 01 pagi. “Late Nite With Jimi” itu lah nama acara yang ia gawangi. Acara ini sudah kadung dikenal dan para pecinta Voice Of Jakarta, radio tempat dimana Jimi bekerja juga sudah kadung jatuh cinta dengan kelakuan Jimi di belakang mikropon, dimana seorang Jimi yang pendiam, tapi iseng, berubah menjadi monster super jahil yang dari awal sampai akhir menteror para pendengarnya dengan keisengan-keisengannya. Tapi dilain perspektif hal ini lah yang membuat para penggemarnya makin cinta, karena ulah sinting si Jimi bila sudah mulai cuap-cuap.

Jimi Gemblung: Iya Chloe, bentar lagi gue selesai nih, bilangin buat anak2 bentar lagi kelar nih
Chloe: Ok, gue cuman mau ngingetin aja kok, soalnya ini kan udh lewat 2 menit dan anak2 udah pada resah tuh nanya2in elo mulu. Bentar lagi siap kan ya?
Jimi Gemblung: Bereees….hehehehe

Chloe adalah rekan kerja Jimi di radio Voice Of Jakarta, sesama DJ yang kerap membantu Jimi untuk berkomunikasi di Kotak Ngobrol, media shoutbox yang memungkinkan para pendengar di seluruh dunia bisa berkomunikasi dengan DJ yang sedang siaran atau juga dengan pendengar-pendengar lainnya.

Selagi sibuk menyiapkan playlist dan juga rekaman-rekaman yang dibutuhkan, mata Jimi sesekali menatap sebait kalimat yang terbentuk dari susunan kata-kata puitis yang ada di salah satu windows yang masih terbuka.

ibu, tak kulihat bulan malam ini
kapankah ia dapat memelukku lagi
sedepa sudah lariklarik kularutkan
dalam timba berisi rindu

Tiba-tiba seluruh suara di studio perlahan mengecil lalu ingatannya kembali pada saat almarhum ibu masih ada dan Jimi sedang menangis memeluk beliau. 17 tahun, 4 bulan umur Jimi pada saat itu, tepat ketika ia pertama kali mengalami apa yang disebut patah hati karena Alexis meninggalkannya. Cinta monyet tapi cukup meremukkan Jimi pada saat itu.

“….Ting tong…!!”

“Iyaaa..iyaaa…ini udah kok…!”

Klik (tombol connect ditekan)

Klik klik (tombol input di set ke mic)

………(bumper siaran play)”
“Halooo….selamat datang di acara Late Nite With Jimi bersama saya Jimi Gemblung disini….!”

Renungan Pertama

•August 3, 2008 • 1 Comment

cloud and haze
the world is covered
with empty mood

Lagi-lagi ia merenung ketika sebuah puisi kembali muncul pada layar monitor PCku, untuk kesekian kali penyair ini menuliskan bait-bait puisi pendek yang tengah digandrunginya. Secangkir teh yang sudah dingin akhirnya ia diseruput.

d’agustino: tolong dong jangan panggil aku penyair
Gizmo: kenapa? puisi2 anda kan bagus2? menurut saya seorang yang bisa menulis sebagus tulisan anda sepatutnya dipanggil penyair.
d’agustino: plis tolong, saya sendiri gak ngerti kenapa kok kata2 itu muncul dan secara refleks saya langsung merangkainya menjadi susunan bait-bait. it just happened.

Itulah sekilas percakapan Gilang dengan si pemilik blog paparankata.com yang berisi puisi-puisi bermakna dalam melalui Yahoo! Messenger yang ia dapatkan setelah berkali-kali mereka bertukar sapa di paparankata.com tersebut. Dan sampai detik ini pun tidak pernah sejengkalpun dia tertarik untuk menceritakan latar belakang dirinya lebih jauh. Percakapan diatas itu lah yang bisa dibilang paling dalam sejauh ini.

Dan akhirnya kembali ia merenung, mencoba mengerti bagaimana si penyair itu bisa menterjemahkan pikiran dan perasaan nya kedalam sebuah puisi, walaupun sekalipun mereka tidak pernah bertemu.