Renungan Pertama

cloud and haze
the world is covered
with empty mood

Lagi-lagi ia merenung ketika sebuah puisi kembali muncul pada layar monitor PCku, untuk kesekian kali penyair ini menuliskan bait-bait puisi pendek yang tengah digandrunginya. Secangkir teh yang sudah dingin akhirnya ia diseruput.

d’agustino: tolong dong jangan panggil aku penyair
Gizmo: kenapa? puisi2 anda kan bagus2? menurut saya seorang yang bisa menulis sebagus tulisan anda sepatutnya dipanggil penyair.
d’agustino: plis tolong, saya sendiri gak ngerti kenapa kok kata2 itu muncul dan secara refleks saya langsung merangkainya menjadi susunan bait-bait. it just happened.

Itulah sekilas percakapan Gilang dengan si pemilik blog paparankata.com yang berisi puisi-puisi bermakna dalam melalui Yahoo! Messenger yang ia dapatkan setelah berkali-kali mereka bertukar sapa di paparankata.com tersebut. Dan sampai detik ini pun tidak pernah sejengkalpun dia tertarik untuk menceritakan latar belakang dirinya lebih jauh. Percakapan diatas itu lah yang bisa dibilang paling dalam sejauh ini.

Dan akhirnya kembali ia merenung, mencoba mengerti bagaimana si penyair itu bisa menterjemahkan pikiran dan perasaan nya kedalam sebuah puisi, walaupun sekalipun mereka tidak pernah bertemu.

~ by bangwin on August 3, 2008.

One Response to “Renungan Pertama”

  1. Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

Leave a Reply